Jasamu, Kader Posyandu

Categories:


Wajahnya polos, tutur katanya sederhana, dan apa adanya tanpa basa-basi. Bahkan ketika berbicara dengan ibu Ani Susilo Bambang Yudhoyono sekalipun, wanita separuh baya itu tidak terlihat grogi sama sekali. Malahan, Oktavina Alfrida, nama kader posyandu yang telah mengabdi selama 15 tahun di posyandu Pelangi, Desa Wono Rejo, Kelurahan Kerom, Papua itu, menunjukkan keakrabannya dengan memanggil ibu Ani dengan sebutan ‘Mama’. Dihadapan ‘Mama’ Ani pula, selain menceritakan pengalamannya, Oktavina sempat melontarkan kelakarnya, “Mama, saya di ruang AC ini kedinginan. Maklum, di Papua cuma ada AC alam, panas. Agar saya terbiasa dengan dinginnya AC, saya harus sesering mungkin diundang ke Jakarta,” katanya yang disambut dengan derai tawa tamu undangan yang hadir pada siang hari itu.
Itulah suasana Temu Kader Nasional Posyandu yang berlangsung akhir Mei 2009 di hotel Mercure Ancol, Jakarta yang dirancang Departemen Kesehatan beberapa waktu lalu. Ribuan kader Posyandu dari seluruh pelosok Tanah Air ini berkumpul memantapkan diri, menjadi lebih baik, berkualitas, dan bertambah ikhlas dalam menjalankan tugas. Dan memang tanpa keikhlasan sulit bagi kader untuk bertahan dalam pengabdian. Sebab kader tak bergaji, tapi ia harus terus mengabdi.
Kader pada umumnya bukan orang yang berlebih secara ekonomi. Bahkan banyak yang berkekurangan. Tapi, semangat kepedulian menghunjam dalam dada mereka. Lain lagi dengan Lilis, kader Posyandu Melati, Kelurahan Kaliabang Tengah, Kecamatan Bekasi Utara, Provinsi Jawa Barat. Bersuamikan buruh pabrik, bergaji UMR (upah minimum regional), sederhana dan bersahaja. Rumahnya berdinding triplek lusuh, beratap asbes, jalannya sempit di kawasan kumuh padat penduduk pinggiran Bekasi. Tapi, ia sangat peduli kepada sesama, walau dirinya dalam kekurangan. Bukan hanya aktif di Posyandu, tapi ia rajin membesuk tetangga yang sakit, menguruskan SKTM (surat keterangan tidak mampu) dan mengantarkan berobat ke Puskesmas atau Rumah Sakit sudah menjadi kebiasaan. Termasuk menanggung biaya transportasi naik becak ataupun angkotnya. Kejadian seperti ini terus berulang. Bahkan Lilis telah melakukannya sejak remaja. Kini, diusianya yang telah menginjak 45 tahun, kebiasaan mulia ini tak pernah berhenti.
Menembus birokrasi RS Cipto Mangunkusumo, Jakarta dan RSUD Kota Bekasi bukan perkara mudah. Siklusnya panjang, berbelit, pelayanan tak ramah, berkasnya rijit, antrian panjang, panas dan menyebalkan. Tapi tugas mulia ini Lilis kerjakan dengan ikhlas dan senang hati. Ia tak berharap apa-apa kepada yang ditolong, kecuali kepuasan batin setelah membantunya.
Oktavina, Lilis dan ribuan kader Posyandu lainnya adalah sosok-sosok wanita luar biasa. Walaupun mereka secara ekonomi, pendidikan, sosial dan jaringan lemah, namun semangat dan kepeduliannya jauh melampaui kapasitasnya. Mereka wanita perkasa yang hatinya sangat mulia. Keberadaannya di tengah-tengah masyarakat yang tidak berdaya, menjadi obor penyemangat yang tidak padam karena keterbatasan. Adakah diantara kita mengingat jasa mereka? Mereka ini seperti guru, pahlawan tanpa tanda jasa. Kalau guru menjaga gawang di bidang pendidikan, kader Posyandu menjaga gawang di bidang kesehatan. Keduanya sama-sama mengabdi untuk anak-anak generasi masa depan bangsa Indonesia. Mereka adalah pahlawan-pahlawan yang mengantarkan anak bangsa hidup lebih sehat dan sejahtera, meskipun hanya sedikit orang yang menaruh perhatian kepadanya.
Sebagai bangsa besar, selayaknya kita tahu berterimakasih. Sebagai masyarakat yang beradab, selayaknya kita menghargai dan memberikan apresiasi kepada para kader Posyandu yang kita cintai. Sekelumit cerita kader Posyandu di atas, diharapkan menginsipirasi jutaan masyarakat Indonesia untuk berbuat kebaikan bagi sesama. Kini, 267 ribu Posyandu dan 1.2 juta kader Posyandu yang tersebar di seluruh pelosok Tanah Air siap untuk berkarya, membangun bangsa yang sehat dan sejahtera. Jasamu kader Posyandu, tidak akan terlupakan sepanjang waktu. Bangga, salut dan hormat untukmu kader Posyandu.

Leave a Reply