Lima Puluh Tahun Penanggulangan Malaria

Categories:


Penanggulangan malaria di Indonesia dibagi atas tiga beberapa periode: periode pembasmian malaria, periode pemberantasan malaria, dan periode sekarang. Bagaimana hasilnya?

Periode 1959 – 1968 Mulai tahun 1959 dengan bantuan WHO dan USAID diselenggarakan program pembasmian/eradikasi malaria yang disebut KOPEM (Komando Operasi Pembasmian Malaria) yang bersifat vertikal. Pada tahun 1959 juga dibentuk Dinas Pembasmian Malaria dimana Institut Malaria diintegrasikan ke dalamnya. Bersamaan dengan itu Pusat Latihan Malaria didirikan di Ciloto dan empat pusat latihan lapangan di luar Jawa.
Pada tahun pertama, pembasmian hanya diselenggarakan di Jawa Bali dan Lampung, oleh karena 65% penduduk Indonesia berada di sana. Komunikasi juga baik dan tenaga terlatih tersedia. Daerah luar Jawa – Bali lainnya antara tahun 1961 – 1964 baru mulai melaksanakan pra-eradikasi.
Indonesia dibagi menjadi 66 zona, setiap zona dengan jumlah penduduk sekitar 1,5 juta orang. Jawa, Bali dan Lampung sendiri terdiri atas 42 zona.
Sampai tahun 1965 program pembasmian malaria di Jawa dan Bali memberikan hasil yang memuaskan. Pada tahun 1963 penyemprotan racun DDT mulai dihentikan di 11 zona yang telah memenuhi kriteria dan ditambah lagi dengan 24 zona pada tahun 1964.
Tahun 1966 program mengalami kemunduran oleh karena beberapa hal, yaitu :
• Pembiayaan mengalami penurunan baik yang berasal dari pemerintah maupun bantuan luar.
• Meluasnya resistensi Anopheles Aconitus terhadap racun DDT dan atau Diledrin di Jawa Tengah dan Jawa Timur
• Resistensi Plasmodium Falciparum dan Plasmodium Malariae terhadap Pirimetamin dan Proguanil serta meningkatnya toleransi Plasmodium falciparum terhadap Primakuin di Irian Jaya

Pada tahun 1968 KOPEM dihapuskan dan kegiatannya diintegrasikan ke dalam Ditjen P4M (Pencegahan Pemberantasan dan Pembasmian Penyakit Menular), sehingga tidak lagi melaksanakan pembasmian melainkan pemberantasan.

Periode 1969 – 2000
Kebijakan Depkes adalah mengintegrasikan secara bertahap kegiatan kegiatan pemberantasan malaria ke dalam sistem pelayanan kesehatan. Hingga tahun 1983 telah banyak kegiatan yang dilaksanakan melalui Puskesmas atau Pustu dengan upaya rujukan seperti rumah sakit, Balai Laboratorium Kesehatan dan lain-lain.
Beberapa kegiatan yang memerlukan tindakan khusus antara lain penyemprotan/fogging rumah/Indoor Residual Spraying (IRS), pengobatan massal dan penanggulangan wabah masih dilaksanakan olek tim khusus di bawah koordinasi kabupaten/provinsi atau pusat dengan mengikut sertakan Puskesmas yang bersangkutan sejak dari fase perencanaan.
Dengan terintegrasinya kegiatan pemberantasan malaria ke dalam sistem pelayanan kesehatan banyak tenaga kesehatan eks KOPEM di Jawa dan Bali dialihkan status kepegawaianya dari status pusat menjadi status daerah, seperti tenaga PMD (Pemberantasan Malaria Desa), KPMD (Kepala PMD) para Komandan Sektor, dan lain-lain.
Tahun 1973 ditemukan pertama kali kasus resistensi Plasmodium falciparum terhadap Klorokuin di Yogyakarta pada seorang penderita import dari Kalimantan Timur. Pada tahun 1975 – 1990 kegiatan pemberantasan malaria sumber dananya selain dari pemerintah juga memperoleh bantuan kembali dari USAID, Bank Dunia, dan JICA.
Pada tahun ini juga dilaporkan telah terjadi resistensi terhadap Plasmodium falciparum terhadap Klorokuin di seluruh provinsi di Indonesia, selain itu juga dilaporkan adanya kasus resistensi Plasmodium terhadap Sulfadoksin Pirimethamin (SP) di beberapa tempat di Indonesia.
Selanjutnya telah ditemukan kasus resistensi Plasmodium vivax terhadap Klorokuin yang untuk pertama kalinya dilaporkan di Pulau Nias, Provinsi Sumatera Utara pada tahun 1991.

Periode 2000 – sekarang
Sampai saat ini malaria merupakan salah satu penyakit re-emerging yang masih menjadi ancaman di daerah tropis dan sub-tropis yang sering menimbulkan KLB. Di Indonesia, penyakit ini mempengaruhi angka kesakitan dan kematian bayi, anak balita dan ibu melahirkan. Kejadian Luar Biasa yang menimbulkan kematian terjadi setiap tahunnya, sehingga pemerintah memprioritaskan penanggulangan penyakit.
Sejak lima tahun terakhir, hampir di seluruh wilayah tanah air angka kesakitan malaria menunjukkan trend yang menurun. Angka kesakitan malaria yang diukur dengan Annual Parasite Incidence (API) pada tahun 2000 sebesar 0,81 ‰ cenderung menurun pada tahun 2001 menjadi 0,62 ‰, pada tahun 2002 sebesar 0,47 ‰, pada tahun 2003 sebesar 0,22 ‰, dan tahun 2004 menjadi 0,11 ‰. Begitu juga angka kesakitan malaria yang diukur dengan Annual Malaria Incidence (AMI) pada tahun 2000 sebesar 31,09 ‰ cenderung menurun pada tahun 2001 menjadi 26,20 ‰, pada tahun 2002 sebesar 22,27 ‰, pada tahun 2003 sebesar 21,80 ‰, dan tahun 2004 menjadi  20,57 ‰. Dari data tersebut diatas kecenderungan penurunan angka kesakitan malaria selama 5 tahun dapat diperkirakan sebesar kuranglebih 50 %.
Sesuai kesepakatan negara anggota WHO, dalam meningkatkan upaya pengendalian malaria, pada tahun 1998 disepakati gerakan pengendalian malaria yang intensif dengan kemitraan global yakni Roll Back Malaria Initiative (RBMI) yang di Indonesia dikenal dengan Gerakan Berantas Kembali Malaria (GEBRAK MALARIA) yang telah dicanangkan Menteri Kesehatan di Kupang pada tanggal 8 April 2000.
Gebrak Malaria adalah gerakan nasional seluruh komponen masyarakat untuk memberantas malaria secara intensi melalui kemitraan antara pemerintah, dunia usaha, lembaga swadaya masyarakat dan badan-badan internasional serta penyandang dana.
Dalam periode tahun 2000 – 2004 di beberapa daerah telah membentuk tim Gebrak Malaria yang terdiri dari beberapa mitra terkait. Untuk impelementasi Gebrak Malaria diberbagai daerah telah dibentuk oganisasi seperti : Tim Gebrak Malaria di Propinsi NTB, Jawa Barat, Jawa Tengah, yang diresmikan melalui SK Gubernur atau Bupati. Khusus untuk Maluku Utara diimplementasikan dalam satu wadah yang dikenal dengan Malaria Centre. Keberhasilan tim Gebrak malaria ini bervariasi di masing-masing wilayah. Beberapa wilayah ada yang telah berhasil
meningkatkan pembiayaan melalui APBD setempat misal di Provinsi Jawa Tengah, Provinsi Maluku Utara, Kabupaten Simeulue, Kabupaten Kulonprogo, dan lain-lain.
Dalam merealisasikan Gebrak Malaria telah disusun Rencana Kegiatan Pengendalian Penyakit Malaria dari tahun 2000 – 2010, yang terdiri dari Periode GEBRAK Malaria I tahun 2000 – 2005 dan Periode GEBRAK Malaria
II tahun 2006 – 2010. Dengan terjadinya resistensi terhadap Plasmodium falciparum terhadap Klorokuin di seluruh provinsi di Indonesia, dan adanya resistensi Plasmodium terhadap Sulfadoksin- Pirimethamin (SP) di beberapa tempat di Indonesia, maka sejak tahun 2004 pemerintah merekomendasikan obat pilihan pengganti Klorokuin dan SP terhadap Plasmodium yaitu dengan kombinasi Artemisinin (Artemisinin-based Combination Therapy/ ACT).
Saat ini tersedia 3 teknologi pengendalian malaria yang memungkinkan untuk dilakukan eliminasi malaria, yaitu : minum obat penenang; diagnosa cepat dengan RDT (Rapid Diagnose Test); dan teknik pencegahan dengan menggunakan kelambu LliN( Long Lasting Insectized Net), dan adanya dukungan serta komitmen yang tinggi dari pemda setempat.
Upaya pengendalian malaria dilakukan berdasarkan Rencana Kerja Program Pengendalian Malaria lima tahunan. Melalui rencana 5 tahun maka ditentukan visi, misi, tujuan, strategi dan langkah-langkah kegiatan yang dilaksanakan untuk mencapai tujuan.
Rencana strategis 2000 – 2005 yang telah dilaksanakan perlu dievaluasi dan dilakukan penyesuaian-penyesuaian untuk digunakan sebagai bahan untuk penyusunan Rencana Kerja Program Pengendalian Malaria 2005 – 2009.
Pada tanggal 25 April 2008 diperingati Hari Malaria Sedunia ke 1 dengan tema ” Ayo Berantas Malaria”. Berbagai kegiatan dilaksanakan dalam acara ini, antara lain : pendistribusian media campaign, obat malaria dan kelambu ke daerah endemis; talkshow interaktif melalui TV dan Ceramah Klinis. Acara puncak
dicanangkan oleh Presiden RI pada tanggal 7 Mei 2008.
Kini 50 tahun sudah Indonesia melakukan upaya untuk penanggulangan malaria. Pada Hari Malaria Sedunia ke 2 ini, diperingati dengan tema ” Menuju Indonesia Bebas Malaria”

Lima Puluh Tahun2

Leave a Reply