Pembangunan Kesehatan Tana Toraja

Categories:


Dengan luas 3.206 kilometer persegi dan jumlah penduduk sebanyak 446.661 jiwa –meningkat 2,9% setiap tahun- , kabupaten Tana Toraja membutuhkan dukungan pembangunan kesehatan yang terpadu guna terwujudnya masyarakat yangs ehat, mandiri dan produktif.

Pembangunan kesehatan Kabupaten tana Toraja diarahkan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang bermuara pada peningkatan pembangunan di sektor kesehatan. Visi pembangunan kesehatannya adalah : terwujudnya daerah Tana Toraja sebagai daerah yang bersih, indah dengan masyarakat sehat, mandiri dan produktif.
Kabupaten Tana Toraja memiliki luas 3.206 km persegi. Terdiri dari 40 kecamatan dan 310 lembang/kelurahan dengan jumlah penduduk sebanyak 446.661 jiwa, terdiri dari Perempuan : 216.266 jiwa dan Laki-2: 230.395 jiwa. Jumlah penduduk setiap tahun mengalami peningkatan yang cukup signifikan yaitu 2,9 %. Tingginya pertambahan penduduk setiap tahun dimungkinkan karena arus mobilisasi tinggi serta tingkat kelahiran juga semakin meningkat.
Adapun misi Pembangunan Kesehatannya ada lima hal. Pertama, menggerakkan pembangunan berwawasan kesehatan. Kedua, meningkatnya lingkungan yang sehat. Ketiga, mendorong kemandirian lokal dalam pembangunan kesehatan. Empat, mendorong pemberdayaan masyarakat untuk hidup sehat termasuk pola hidup bersih dan sehat. Dan kelima, memelihara dan meningkatkan pelayanan kesehatan yang bermutu, merata dan terjangkau.

Situasi Derajat Kesehatan
Derajat kesehatan di Tana Toraja dipengaruhi oleh tiga faktor yaitu morbiditas, mortalitas dan status gizi. Yang dimaksud morbiditas adalah tren atau kecenderungan suatu penyakit serta upaya untuk penanggulangannya.
Dengan melihat situasi morbiditas diatas nampak bahwa selain penyakit menular juga didapatkan penyakit tidak menular seperti hipertensi, penyakit pada sistem otot dan lainlain. Jadi sudah mulai terjadi pergeseran pola penyakit, yang dipengaruhi oleh gaya hidup, terutama dalam pola makan.
Diantaranya penyakit menular adalah ISPA ( Infeksi Saluran Pernapasan Akut ), TB, Paru, Diare, Kusta, dan AFP (Acute Placcid Paralysis) atau lumpuh layuh. Ada lagi penyakit menular yang bersumber dari binatang. Diantaranya, penyakit Rabies yang sampai sekarang masih menjadi permasalahan di Kabupaten Tana Toraja, karena pada umumnya masyarakat gemar memelihara hewan piaraan terutama anjing. Pada umumnya rabies yang terjadi karena gigitan anjing, dibandingkan dengan hewan piaraan lain.
Ada lagi penyakit malaria. Berdasarkan data profil kesehatan Propinsi Sulawesi Selatan tahun 2004 didapatkan 6.922 penderita malaria klinis, 962 malaria (+). Penderita malaria per 1000 penduduk di Kabupaten Tana Toraja selama tiga tahun berturut-turut, yaitu tahun 2005-2007 mengalami kenaikan. Arus mobilisasi yang tinggi di Tana Toraja merupakan salah satu faktor yang berperan dalam penularan penyakit malaria.

Pembangunan Kesehatan Tana Toraja

Mortalitas
Mortalitas adalah angka kematian pada bayi, balita, dan ibu-ibu yang sedang hamil atau melahirkan. Ada banyak faktor yang mempengaruhi kematian bayi, tetapi tidak mudah untuk menentukan faktor yang paling dominan. Ketersediaan tenaga medis yang terampil, kesediaan masyarakat untuk mau mengubah perilaku tradisional ke modern serta faktor lain merupakan faktor yang sangat berpengaruh terhadap kematian bayi.
Jumlah kasus kematian bayi pada tahun 2005 sebanyak 181, tahun 2006 sebanyak 86 dan tahun 2007 sebanyak 105.Penyebab kematian bayi adalah : BBLR = 10,42%, Asfiksia = 7,29%, Sepsis = 2,08%, Neonatrum = 1,04%, Pnemoni = 3,87%, Demam Thypoid = 0,65%, Diare = 5,16%,DBD = 0,65%, Kecelakaan = 0,65%, Lahir mati = 5,81%, Lain-lain = 68,79%
Sedangkan kematian balita yaitu kematian anak umur 0-4 tahun per 1000 anak. Banyak faktor yang dapat mempengaruhi kematian anak balita seperti sosial ekonomi, lingkungan, kecelakaan, penyakit, dan lain-lain. Berdasarkan laporan LB2 dan Lap. KIA tahun 2005 didapatkan 13 kasus kematian balita, tahun 2006 ada 17 kasus kematian balita dan tahun 2006 terdapat 10 kasus kematian balita.
Adapun angka Kematian Ibu (AKI) dalam kondisi hamil, melahirkan dan nifas, dilaporkan KIA ada 6 kasus kematian (3 kasus kematian ibu hamil dan 3 kasus kematian ibu nifas) di tahun 2006 dan di tahun 2007 terdapat 17 kasus kematian ibu. Penyebab kematian ibu di tahun 2007 yaitu perdarahan 5 orang, infeksi 1 orang, eklamsia 4 orang, lain-lain 6 orang.

Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak
Pelayanan antenatal merupakan salah satu pelayanan kesehatan dasar bagi ibu hamil sejak usia kandungan 3 bulan sampai 9 bulan, dimana minimal kunjungan sampai melahirkan adalah 4 kali.
Cakupan Pelayanan Antenatal (K4) tahun 2005 sebanyak 59,03%, tahun 2006 sebanyak 65,35% dan tahun
2007 sebanyak 67,42%.
Walaupun terjadi peningkatan dari tahun 2005 sampai tahun 2007, akan tetapi belum mencapai target tahun 2007 sebesar 90%. Banyak faktor yang mempengaruhi sehingga cakupan K4 di Kabupaten Tana Toraja masih rendah antara lain kinerja bidan di desa, kesadaran ibu, serta sarana yang mendukung, mengingat kondisi geografis Tana Toraja banyak daerah terpencil yang belum terjangkau kendaraan.
Komplikasi dan kematian ibu maternal lebih banyak didominasi karena persalinan. Keterlambatan pertolongan persalinan, persalinan yang tidak ditangani oleh bidan dan dokter, peranan keluarga, serta perilaku si ibu yang dapat mempengaruhi besarnya angka kematian. Persentase persalinan oleh tenaga kesehatan tahun 2005 sebanyak 32%, tahun 2006 sebanyak 33% dan tahun 2007 sebanyak 35%.

Kesehatan Lingkungan
Banyak penyakit yang disebabkan oleh faktor lingkungan, seperti diare, DBD, malaria, ISPA, kecacingan, dan lain-lain. Kondisi perumahan yang kurang sehat serta tidak ditunjang dengan sarana kesehatan lingkungan seperti jamban yang layak merupakan sumbangan terbesar untuk berjangkitnya penyakit. Berikut ini akan disajikan hal-hal yang berhubungan dengan sanitasi desa.

Pembangunan Kesehatan Tana Toraja 2

Pemanfaatan Sarana Pelayanan Kesehatan
Kecenderungan peningkatan kunjungan ke Puskesmas memberikan gambaran bahwa kesadaran masyarakat untuk memanfaatkan fasilitas kesehatan sudah mulai meningkat.
Persentase kunjungan Puskesmas (Rawat inap dan jalan ) per 100.000 penduduk Tahun 2005 sebanyak 4,76%, tahun 2006 sebanyak 5,02% dan tahun 2007 sebanyak 7,76%.
Di Kab. Tana Toraja terdapat 1 unit RS Umum, 2 unit RS Swasta, 28 unit Puskesmas, 73 unit Puskesmas Pembantu, 99 unit Polindes, 27 unit Puskesmas Keliling, 1 unit Gudang Farmasi, 12 unit Apotek, 68 unit praktek dokter swasta, 440 unit Posyandu, 2 unit RS Bersalin dan 1 unit Balai Pengobatan. Adapun tenaga kesehatan yang ada terdiri dari : 9 orang dokter spesialis, 54 dokter umum, 16 dokter gigi, 8 apoteker, 11 bidan D3, 144 bidan, D3 Perawat 313 orang.
Sumber daya biaya merupakan salah satu dari sumber daya yang penting dalam pembangunan kesehatan, karena tanpa biaya kegiatan tidak dapat berjalan sebagaimana mestinya. Alokasi pembiayaan untuk sektor kesehatan tahun 2004 di Kabupaten Tana Toraja sebesar 5,79% dari total APBD dan mengalami kenaikan di tahun 2005 sebesar 8,48% dari total APBD. Tahun 2006 sebesar 8,89%, dan tahun 2007 sebesar 8,06%.

 

Leave a Reply