Penderita Kanker di Indonesia Meningkat

Categories:


Kepala Departemen Radioterapi Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Profesor Soehartati Gondhowiardjo mengatakan, sulit mengetahui jumlah pasti penderita kanker di Indonesia. Tetapi berdasarkan data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) tahun 2012, prevalensi kanker mencapai 4,3 banding 1.000 orang. Padahal data sebelumnya menyebutkan prevalensinya 1 banding 1.000 orang.

Kenaikan prevalensi kanker di Indonesia menjadi masalah bagi pengobatan. Soehartati mengatakan, pusat pengobatan kanker di Indonesia baru dapat melayani 15 persen pasien kanker. “Padahal, angka itu saat pasien kanker di Indonesia masih diprediksi 1 banding 1.000,” ungkap profesor di bidang radiasi onkologi ini.

Menurut Soehartati, Indonesia perlu menambah pusat pengobatan kanker dengan lokasi yang merata. “Pusat pengobatan kanker di Indonesia masih 22 rumah sakit negeri, dan 2 rumah sakit swasta. Itu pun letaknya tidak merata. Selain jumlah, perlu juga diperhatikan jaraknya,” cetusnya.

Namun yang lebih penting, lanjut Soehartati, masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan untuk mengantisipasi keadaan tersebut. Menurutnya, mewaspadai risiko kanker dengan memulai pola hidup sehat merupakan yang utama.

Para pakar jantung dari Asosiasi Jantung Amerika merekomendasikan tujuh tips gaya hidup sehat yang bisa mengurangi risiko terserang kanker hingga 50 persen, sekaligus mengurangi risiko serangan jantung.

Ketujuh tips itu adalah (1) Aktif berolahraga, (2) Mengendalikan berat badan, (3) Mengikuti diet yang sehat, (4) Menjaga tingkat kolesterol (5) Menurunkan tekanan darah (6) Memantau kadar gula, dan (7) Tidak merokok.

Para peneliti menyebutkan, mereka yang menjalankan enam dari tujuh tips itu bisa menurunkan risiko kanker hingga 50 persen, sedangkan bagi yang hanya melaksanakan empat tips bisa menurunkan risiko terkena kanker 33 persen. Mereka yang mengikuti satu atau dua tips bisa menekan risiko kanker hingga 21 persen.

Jika “tidak merokok” dicabut dari tujuh tips untuk prilaku jantung sehat ini, maka kaitan faktor-faktor hidup sehat dengan menurunnnya risiko terkena kanker berkurang secara signifikan.

Kanker Serviks dan kanker payudara

Jumlah penderita kanker serviks di Indonesia sangat tinggi. Menurut dr. M. Soemanadi RS Kanker Dharmais Jakarta, semenjak adanya BPJS, penderita kanker yang selama ini tidak terdeteksi mulai bermunculan. Hal itu ditandai dengan meningkatnya jumlah pasien yang berobat ke rumah sakit tersebut.

Setiap tahun tidak kurang dari 15.000 kasus kanker serviks terjadi di Indonesia. Itu membuat kanker serviks disebut sebagai penyakit pembunuh wanita nomor 1 di Indonesia.

Label itu tidak berlebihan karena tiap hari di Indonesia dari 40 wanita yang terdiagnosa menderita kanker serviks, 20 wanita diantaranya meninggal karena kanker serviks.

Tingginya kasus kanker serviks di Indonesia membuat WHO menempatkan Indonesia sebagai negara dengan jumlah penderita kanker serviks terbanyak di dunia.

Bahkan menurut WHO pada tahun 2030 akan terjadi lonjakan penderita kanker di Indonesia sampai tujuh kali lipat. Jumlah penderita kanker yang meninggal juga kian memprihatinkan.

Estimasi angka insidens dan mortalitas Kanker di Indonesia (Globocan 2012)

Sementara kanker payudara, merupakan penyakit dengan kasus terbanyak kedua setelah kanker serviks. Penderita kanker payudara di Indonesia pada tahun 2013 (Profil Kesehatan Indonesia tahun 2008) sebanyak 5.207 kasus.

Setahun kemudian pada 2005, jumlah penderita kanker payudara meningkat menjadi 7.850 kasus. Tahun 2006, penderita kanker payudara meningkat menjadi 8.328 kasus dan pada tahun 2007 jumlah tersebut tidak jauh berbeda meski sedikit mengalami penurunan yakni 8.277 kasus.

Yang perlu diketahui data penderita kanker payudara tersebut merupakan pasien yang keluar rawat inap dengan diagnosis kanker. Jadi penderita kanker payudara sebenarnya sangat mungkin jauh lebih besar lagi.

Kanker hati juga menjadi jenis kanker dengan penderita yang banyak. Penderita kanker hati umumnya laki-laki. Penyakit kanker hati ini merupakan jenis penyakit kanker dengan jumlah penderita nomor lima terbanyak di dunia dan menjadi penyebab kematian nomor tiga.

Besarnya jumlah penderita kanker di suatu negara biasanya berhubungan dengan jumlah penderita hepatitis. Sebab penderita hepatitis umumnya berpotensi mengarah pada kanker hati.

Sementara pada anak, leukemia merupakan jenis kanker yang paling banyak menyerang. Leukemia atau kanker darah menduduki peringkat tertinggi kasus kanker pada anak karena masih lemahnya penanganan kanker pada anak.

Tidak heran untuk kasus penderita kanker darah pada anak yang ditemukan, umumnya sudah memasuki stadium lanjut. Terlambatnya penanganan terhadap penderita kanker darah bisa berakibat fatal dan dapat menyebabkan kematian. Umumnya penderita kanker darah ditemukan pada anak berusia di bawah 15 tahun.

Untuk daerah dengan penderita kanker terbanyak di Indonesia adalah di Yogyakarta. Di daerah tersebut, tingkat prevalensi tumor mencapai 9,6 per 1000 orang. Angka tersebut jauh lebih tinggi dari nilai rata-rata prevalensi nasional yang sebesar 4,3 per 1.000 orang.

Sementara jika dibandingkan dengan penyakit-penyakit non-kanker yang mengakibatkan kematian, kanker menempati posisi ke-tujuh. Data menurut Riset Kesehatan Dasar tahun 2007 tersebut menempatkan stroke, TBC, hipertensi, cedera, perinatal dan diabetes melitus di atas jumlah kematian akibat kanker.

Besarnya jumlah penderita kanker di Indonesia ini sebenarnya bisa dikurangi jika membiasakan hidup sehat. Seperti dengan rajin berolahrga, makan buah dan sayuran, menghindari makanan berpengawet dan menjauhi alkohol serta rokok.

Namun, jika sudah terlanjur menderita kanker, tak ada hal lain yang bisa dilakukan selain melakukan pengobatan. Pengobatan kanker selain lewat medis, juga bisa dilakukan secara alternatif. Pengobatan alternatif bagi penderita kanker bisa dilakukan dengan minum obat herbal antikanker yang berkhasiat menumpas habis sel kanker sampai ke akar-akarnya seperti Sarang Semut yang kini dikenal sebagai herbal antikanker dengan reaksi tercepat.

Hanya 1-2 bulan penggunaan, efek positif sudah dapat dirasakan oleh penderita kanker. Penderita kanker tidak perlu cemas akan efek samping yang ditimbulkan karena sejauh ini tidak ada efek samping negatif yang dilaporkan oleh para penggunanya. Penderita kanker dapat sembuh tanpa perlu menjalani berbagai macam pengobatan yang rumit dan menyakitkan [mediakom]

Leave a Reply