Perkembangan Vaksin Indonesia Terkini

Categories:


Sebagai negara  dengan jumlah penduduk 240 juta orang, Indonesia membutuhkan kesiapsiagaan tinggi dalam menghadapi ancaman pandemi.”Ketersediaan vaksin merupakan salah satu komponen penting kesiapsiagaan menghadapi pandemi. Karena selain mencegah penularan dan menekan angka kesakitan, juga dapat menurunkan angka kematian,” tutur Direktur Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Amin Soebandrio di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia awal Maret 2015 lalu.

 

Dan dosis yang dibutuhkan untuk melakukan blanket immunization yang mencakup 50 % populasi dengan pemberian 2 dosis per orang sebanyak 230 juta dosis. Dan jika diasumsikan harga vaksin impor senilai10 dolar Amerika Serikat per dosis maka dibutuhkan dana sebesar 2,3 juta dolar Amerika Serikat atau setara dengan Rp 30,36 miliar. Sementara kapasitas produksi dunia hanya 80 juta vaksin per minggu untuk mensuplai 6,5 miliar penduduk dunia.

 

Melihat keterbatasan kemampuan produksi dunia ini, Indonesia sudah melakukan pengembangan produksi 7 macam vaksin, meliputi H5N1, hepatitis, tubercolosis, dengue, malaria, rotavirus dan HPV. Tiga diantaranya yaitu H5N1, dengue dan tuberkolosis diperkirakan sudah siap produksi di periode 2016-2025.

 

Vaksin H5N1

 

Di Indonesia saat ini sedang dikembangkan vaksin H5N1 untuk menghadapi ancaman pandemi Avian Influenza atau lebih dikenal dengan flu burung yaitu vaksin influenza seasonal. Pengembangan vaksin AI ini dilakukan, menurut Amin, juga bisa berpotensi ekonomi karena dapat dipasarkan di dalam dan luar negeri.

 

”Rancangan vaksin diharapkan dapat mengatasi masalah hak paten di sisi teknologi platform vaksin,” tehas Amin. Platform vaksin yang diperoleh melalui penelitian ini diharapkan dapat menginduksi respon antibodi netralisasi, respon sel T sitotoksik serta innate immunity yang mampu merespon dengan spektrum luas dengan dosis yang relatif kecil.

 

Vaksin AI yang mulai dikembangkan pada tahun 2016 ini melalui enam tahap yang tiap tahapnya berlangsung selama 1 tahun.  Pihak yang melakukan pengembangan mencakup Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, FKUI, Fakultas Teknik UI, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Universitas Airlangga, dan Biofarma.

 

Di 2015, pengembangan vaksin H5N1 sudah mencapai tahap uji keamanan yang diujicobakan pada hewan. Dan pada tahun 2016 hingga 2020 mendatang direncanakan sudah bisa diuji preklinik dan uji klinik serta diproduksi.

 

Sedangkan vaksin tuberkolosis, di 2015 ini baru mencapai tahap pertama dari empat tahapan. Saat ini Tim riset dari Litbangkes, UI,UGM, ITB, Unpad, Unair dan Unhas sedang melakukan uji imunogenisitas dan penyiapan kandidat antigen. Dan rencananya akan siap diproduksi pada 2020 mendatang.

 

Sementara untuk vaksin dengue, setelah melalui tahap pemetaan dan tahap penentuan strain virus, di 2015 ini memasuki tahap teknologi pengembangan virus yang dilakukan oleh LIPI, Unair, UI, Biofarma, Litbangkes, PSSP dan IPB.

 

 

 

No Jenis Vaksin Target
1 H5N1 2015
2 Hepatitis Sedang berjalan
3 Tuberkolosis 2020
4 Dengue 2025
5 Malaria (teknik radiasi) Sedang berjalan
6 Rotavirus Sedang berjalan
7 HPV Sedang berjalan

Tabel Produksi Vaksin Indonesia oleh Lembaga Biologi Molekuler Eijkman,2015

 

BOKS

 

Isu Pengembangan Vaksin Baru

 

Agar pengembangan vaksin bisa berjalan dengan lancar sejak proses produksi hingga nantinya siap digunakan, menurut Amin ada beberapa hal penting yang harus mulai dipertimbangkan. Diantaranya harga per dosis yang terjangkau oleh masyarakat, kecepatan dan kemudahan produksi, pilihan substrat untuk membunuh virus atau mengekspresikan antigen virus, proteksi silang terhadap galur varian, efikasi secara umum, keamanan serta penerimaan oleh badan regulator dan masyarakat.

 

 

 

Leave a Reply