Sulit Pastikan Jumlah Penderita Kanker

Categories:


Beberapa waktu lalu, MEDIAKOM berkesempatan mewawancarai Prof. DR. dr. Soehartati Argadikoesoema Gondhowiardjo, Sp. Rad(K), OnkRad. Kepala Bagian Radioterapi Rumah Sakit Ciptomangunkusumo. Berikut petikannya.

Bagaimana trend penderita penyakit kanker di Indonesia untuk 3 tahun terakhir ini?

Hingga saat ini, Indonesia masih belum memiliki sistem pencatatan kasus kanker yang baik, sehingga pertanyaan seperti trend 3 tahun terakhir menjadi sulit dijawab. Kesadaran masyarakat yang masih rendah mengenai penyakit ini juga menyebabkan banyak kasus yang tidak sampai ke rumah sakit.

Berdasarkan survei Kementerian Kesehatan RI, dilaporkan bahwa 4,3 dari 1000 orang Indonesia saat ini hidup dengan kanker. Satu juta orang lebih hidup dengan kanker. Bandingkan dengan jumlah orang yang hidup dengan kanker di Amerika Serikat, misalnya. Laporan terakhir menunjukkan 13 juta orang hidup dengan kanker di Amerika Serikat, yang jumlah penduduknya 300 juta orang, tidak berbeda jauh dengan Indonesia.

Apakah ini menunjukkan masalah kanker di Indonesia tidak sebesar Amerika Serikat? Sedihnya, tidak. Berdasarkan interpolasi data di negara-negara tetangga, hal tersebut justru menunjukkan jauh lebih rendahnya angka harapan hidup penderita kanker di Indonesia akibat keterlambatan diagnosis, maraknya pengobatan alternatif, dan keterbatasan fasilitas tatalaksana kanker.

Apa peran radioterapi dalam penanganan kanker?

Radioterapi merupakan salah satu dari 3 terapi medis utama untuk kanker. Berbeda dengan persepsi yang umum beredar di masyarakat, terapi utama untuk kanker bukan kemoterapi melainkan pembedahan, kecuali pada kanker darah (leukemia).

Tiga pilar utama tatalaksana kanker adalah pembedahan, radioterapi, dan kemoterapi. Ketiga jenis terapi ini tidak saling bersaing, melainkan saling melengkapi: sebagian besar pasien kanker membutuhkan kombinasi dari 2-3 jenis terapi ini.

Contoh peran radioterapi dalam tujuan kuratif, misalnya pada Kanker Nasofaring. Saat ini, kombinasi antara radioterapi dengan kemoterapi (strategi yang dikenal dengan kemoradiasi) merupakan terapi utama untuk penyakit tersebut. Untuk kanker nasofaring stadium dini, radioterapi malah memegang peran tunggal.

Di mana pasien bisa mendapatkan layanan radioterapi?

Rumah sakit yang menyediakan layanan radioterapi umumnya masih terpusat di kota-kota besar saja. Saat ini terdapat 28 rumah sakit dengan rincian 22 rumah sakit pemerintah dan 6 rumah sakit swasta, yang tersebar di 12 propinsi. Jumlah pesawat radiasi ada 42, terdiri dari 25 pesawat linear accelerator dan 17 pesawat cobalt-60.

Jumlah ini masih sangat jauh dari yang dibutuhkan yaitu lebih dari 200 pesawat radiasi (berdasarkan standar indikator yang lazim digunakan sebesar 1 pesawat radiasi untuk 1 juta penduduk). Keterbatasan jumlah ini menyebabkan daftar tunggu pasien kanker untuk mendapat radioterapi menjadi cukup lama. Di beberapa pusat radioterapi di daerah, waktu tunggu bisa mencapai 1 tahun sebagaimana dilaporkan dalam surat kabar beberapa waktu yang lalu.

Berapa waktu yang diperlukan untuk mendapatkan terapi ini?

Waktu tunggunya bervariasi. Di beberapa daerah bisa mencapai lebih dari 1 tahun, sedangkan di Jakarta yang jumlah alatnya lebih banyak, beberapa minggu. Sebenarnya bila jumlah alat memadai, idealnya pasien kanker tidak perlu menunggu lebih dari 2 minggu untuk mendapatkan radioterapi, namun mengingat kapasitas pusat radioterapi saat ini hanya 15% dari kebutuhan, daftar tunggu ini menjadi sulit dihindari.

Radioterapi sendiri dilakukan secara rawat jalan, umumnya sekali sehari selama beberapa minggu. Rawat inap hanya dilakukan bila kondisi pasien dinilai kurang baik atau ada efek samping yang perlu pengawasan ketat. Setiap sesi radioterapi umumnya memerlukan waktu 20-40 menit.

Apakah radioterapi juga bisa diberikan pada peserta dengan JKN?

Ya. Biaya radioterapi ditanggung juga pada peserta dengan JKN. Apapun jenis radioterapi yang diberikan, mulai dari teknik sederhana hingga kompleks, peserta JKN tidak dikenakan biaya tambahan.

Jika pasien harus membayar apakah layanan radioterapi ini mahal?

Seperti halnya tatalaksana kanker lainnya, biaya radioterapi memang cukup mahal. Biaya radioterapi sebanyak 20-30 sesi kurang lebih sama dengan biaya pembedahan, kurang lebih 20-30 juta rupiah. Biaya ini sebenarnya dapat dikurangi seandainya bea impor dan pajak-pajak terkait pengadaan alat radioterapi dapat dikurangi atau dihapuskan, sebab komponen utama biaya tersebut adalah pengadaan dan pemeliharaan alat. Keikutsertaan dalam JKN akan sangat membantu mengurangi dampak sosial-ekonomi akibat kanker.

Apa yang harus disiapkan oleh pasien yang akan mendapatkan terapi radioterapi ini?

Dengan beberapa pengecualian, radioterapi hanya diberikan pada pasien yang sudah jelas diagnosis kankernya (terbukti dengan hasil patologi). Dengan demikian, idealnya penentuan keputusan pemberian radioterapi dilakukan bersama oleh tim multidisiplin.

Dari sudut pandang pasien, sebenarnya tidak ada persiapan khusus kecuali pada pasien yang dinilai berisiko tinggi mengalami efek samping akan dievaluasi dahulu oleh spesialis terkait, misalnya terkait asupan gizi, kesehatan gigi/mulut, atau rehabilitasi medik.

Apa side effect bagi pasien yang dilakukan radioterapi?

Efek samping yang terjadi tergantung pada lokasi bagian tubuh yang mendapat radiasi, karena berkaitan dengan jaringan normal di sekitar tumor yang ikut terkena radiasi. Sebagai contoh, pada pasien yang memperoleh radiasi daerah panggul, misalnya pasien kanker mulut rahim, efek samping yang paling sering adalah diare.

Pada pasien yang memperoleh radiasi pada daerah kepala/leher, efek samping yang paling sering adalah gangguan menelan, sariawan, mulut kering, dan gangguan pengecapan.

Adakah alternatif pengobatan lain jika pasien menolak untuk dilakukan radioterapi?

Alternatif lain yang tersedia tergantung jenis tumornya dan stadiumnya. Sebagai contoh, pada pasien dengan kanker payudara stadium dini yang menolak dilakukan radioterapi, maka tindakan pembedahan dapat diubah dari lumpektomi (pengangkatan benjolan) menjadi mastektomi (pengangkatan seluruh payudara).

Contoh lain adalah pada kanker kelenjar getah bening (limfoma). Pada subtipe limfoma tertentu, tatalaksana terpilih adalah radioterapi dan sebagai alternatifnya adalah kemoterapi seperti subtipe lainnya.

Namun demikian, pada beberapa kasus lainnya, misalnya kanker mulut rahim stadium lokal lanjut, seringkali radioterapi merupakan satu-satunya pilihan tatalaksana kuratif karena terapi lainnya pertama terlalu besar komplikasinya, kedua jauh lebih rendah efektivitasnya.

Sejak kapan dikembangkan radioterapi ini dan bagaimana prospek pelayanan ini di waktu mendatang?

Radioterapi sebenarnya sudah ada di Indonesia sejak tahun 1927. Pada tahun 1980-an, pemerintah sempat membuka pelayanan radioterapi di berbagai rumah sakit propinsi. Namun, sempat surut karena kurangnya perhatian pemerintah mengenai masalah kanker. Baru pada dekade terakhir ini jumlah pusat radioterapi bertambah secara bermakna.

Dengan disadarinya masalah kanker sebagai salah satu masalah kesehatan utama, Perhimpunan Dokter Spesialis Onkologi Radiasi Indonesia sebenarnya sangat mengharapkan agar pelayanan radioterapi di Indonesia dapat tersedia secara lebih merata. Rasanya kurang manusiawi bila pasien kanker harus menginap di kota lain, jauh dari keluarga, hanya untuk memperoleh pelayanan radioterapi.

Di beberapa negara maju, bahkan sudah diupayakan agar bagi setiap penduduknya, tersedia 1 pusat radioterapi dalam jarak 4 jam perjalanan dari tempat tinggalnya. Radioterapi merupakan salah satu terapi kanker yang paling cost-effective, sehingga kami cukup optimis bahwa cita-cita tersebut dapat tercapai.

Berapa banyak dokter ahli radioterapi?

Saat ini terdapat 67 orang dokter ahli radioterapi di seluruh Indonesia.

Berapa universitas di Indonesia yang telah mengembangkan spesialisasi ini?

Saat ini pendidikan dokter spesialis onkologi radiasi baru tersedia di Universitas Indonesia, dengan Departemen Radioterapi RSCM sebagai rumah sakit pendidikan utama, dan saat ini telah dibuka kerjasama dengan RSUD Dr Soetomo Surabaya sebagai rumah sakit jejaring pendidikan.

Berapa persen pasien kanker yang bisa mendapatkan terapi ini?

Saat ini kurang lebih 11.000 pasien kanker yang memperoleh radioterapi pertahunnya di Indonesia. Jumlah ini sangat kecil, hanya 15% dari estimasi jumlah pasien yang membutuhkan radioterapi di negara kita.

Di negara maju yang ketersediaan alatnya lebih baik, kurang lebih 50-60% dari seluruh pasien kanker memperoleh radioterapi.

Bagaimana teknik promosi dan sosialisasi terapi ini kepada masyarakat. Strategi komunikasi apa yang digunakan?

Tatalaksana kanker merupakan tatalaksana yang bersifat multimodalitas (kombinasi beberapa jenis terapi) dan multidisiplin (melibatkan berbagai spesialisasi), dengan modalitas utama operasi, radioterapi, dan kemoterapi. Kerjasama multidisiplin mutlak diperlukan dan saling mendukung. Hubungan antara radioterapi dengan spesialis lainnya tidaklah sebagai pesaing, melainkan mitra. Bisa dikatakan seluruh pasien yang menjalani radioterapi merupakan pasien rujukan dari spesialis lain.

Dalam hubungan dengan masyarakat, fokus promosi dan sosialisasi bukan tentang radioterapi melainkan tentang cancer awareness. Banyak kegiatan yang telah dilakukan Departemen Radioterapi RSCM bersama mitra lainnya untuk memberikan informasi kepada masyarakat mengenai pentingnya pencegahan dan deteksi dini kanker serta melawan arus promosi terapi-terapi alternatif.

Kegiatan komunikasi dengan masyarakat umumnya difokuskan melalui kegiatan aksi World Cancer Day yang telah dilakukan sejak tahun 2010, bekerjasama dengan LSM kanker seperti Yayasan Kanker Indonesia (YKI), perhimpunan survivor kanker (CISC), menjadi narasumber di media, menyelenggarakan seminar-seminar tentang kanker baik untuk kalangan medik maupun awam [red]

Leave a Reply