Universitas Kehidupan Oleh : Prawito

Categories:


Suatu hari ada diskusi kecil dengan seorang teman, tiba-tiba Ia teringat pesan ayahnya “bener itu belum tentu kebenaran”. Sebut saja Ira, Ia menceritakan masa lalu yang penuh liku. Pernah suatu saat pimpinan marah besar, karena dirinya dianggap tidak loyal. Ira tidak mau menerima pemberian sejumlah uang “satu tas”. Apa kamu masih kurang? kata pimpinan itu, kemudian Dia memberi tambahan sejumlah uang lagi, tapi Ira tetap menolak. Penolakan
bukan karena kurang, tapi karena ketidakjelasan sumber uang dan untuk apa. Akhirnya, pimpinan itu mengatakan “keluar kamu”. Singkat cerita Ira pun keluar dari unit tersebut menjadi fungsional, meninggalkan jabatan strukturalnya.

Setelah beberapa tahun kemudian, pimpinan tadi mempunyai masalah dengan penggunaan keuangan negara. Ternyata, Dia pun harus berusan dengan pengadilan dan dinyatakan bersalah. Akhirnya, suka tidak suka harus masuk rumah prodeo, akibat kesalahan penggunaan uang negara tersebut. Sementara, bawahan yang sempat kena
marah karena tidak mau menerima uang tak jelas, sangat bersyukur karena merasa terselamatkan dari jebakan kesulitan hidup dikemudian hari, seperti yang dialami mantan pimpinanya.

Melihat kenyataan hidup seperti di atas ungkapan “bener belum tentu kebeneran” menemukan kenyataan. Kejujuran, kesungguhan dan keteguhan untuk tidak menyimpang dalam bekerja, tak mendapat tempat dari orang lain, bahkan pimpinannya sendiri.

“Kini, setelah beberapa tahun berlalu, kisah hidupnya dapat memberi inspirasi untuk menyikapi berbagai bentuk
godaan yang datang silih berganti. Godaan itu dapat menguatkan diri untuk tetap istiqomah mengikuti jalan yang benar”, ujar Ira.

Jadi, berbuat bener belum tentu mendapat respon yang positif dari lingkungan kerja, tapi bukan berarti bebuat salah
mendapat respon negatif dari lingkungan kerja, ada kemungkinan sebaliknya. Bergantung kepribadian orang yang bekerja pada lingkungan tersebut. Idealnya, setiap tindakan buruk mendapat respon negatif dan tidakan bener
mendapat respon positif. Lalu bagaimana ternyata justru bertolak belakang? Perilaku buruk mendapat respon positif dan perilaku bener mendapat respon negatif?

Faktanya, tindakan yang benar belum tentu mendapat responpositif, seperti kasus di atas. Nah, bagaimana menyikapinya? Ada ungkapan “becik ketitik olo ketoro”, artinya siapa yang benar maupun salah pada suatu saat pasti akan ketahuan. Bila saat ini yang salah masih belum tersentuh, terungkap
pasti tiba waktunya akan terlihat. Demikian juga sebaliknya, yang benar akan mendapat pembenaran, meskipun sebelumnya menjadi pihak yang salah dan terkadang terzalimi. Saat itu tak semua orang sanggup menghadapi dengan sikap yang benar dan tepat.

Untuk itu, marilah kita terus belajar hidup dari Universitas Kehidupan. Ditempat ini semuaorang belajar memaknai hidup. Ada yang lulus dan ada juga yang gagal. Tentu kita ingin menjadi alumnus dari universitas kehidupan.

 

Universitas kehidupan

Faktanya, tak semua yang kita kehendaki terus kita miliki. Itu artinya sedang belajar ikhlas. Terkadang harus menerima kenyataan yang sangat jauh dari harapan, bahkan bertolak belakang 180 derajat. Sebab, jika semua yang kita impikan segera terwujud, kita tak akan pernah belajar sabar, padahal sabar sebagai ciri para penghuni surga. Bersyukurlah bila ada kesulitan, karena saat itu sedang belajar sabar. Ia tetap terus berdoa dan berikhtiar sepanjang hidupnya. Karena mereka yakin sedang belajar sabar, berdoa dan berikhtiar, terus menatap masa depan dengan penuh harap.

Seorang yang dekat dengan Allah, bukan berarti tidak ada air mata. Seorang yang taat pada Allah, bukan lantas terbebas dari kekurangan. Seorang yang tekun berdo’a, bukan berarti tidak ada masa masa sulit. Biarlah Allah yang berdaulat sepenuhnya atas hidup ini, karena Allah Maha Tahu yang paling tepat untuk memberikan yang terbaik bagi seorang hamba.

Untuk itu, ketika hasil kerja tak dihargai, sebenarnya saat itu sedang belajar tentang keikhlasan, ketika usaha dinilai tak penting oleh orang lain, maka sebetulnya sedang belajar kesabaran. Ketika hati terluka sangat dalam, maka waktu yang tepat untuk belajar tentang memaafkan. Begitu juga ketika sedang sangat lelah dan merasa kecewa, maka saat itu sedang belajar tentang kesungguhan.

Begitu pula saat merasa sepi dan sendiri, maka waktu itu sedang belajar tentang ketangguhan. Ketika
terpaksa harus membayar biaya yang sebenarnya tidak perlu kita yang menanggung, maka saat itu kita sedang belajar tentang murah hati. Jadi harus tetap semangat, jaga keikhlasan, sabar dan tetap tersenyum.

Mari terus sadari, bahwa kita sedang menimba ilmu di Universitas Kehidupan. Allah menaruh kita pada “tempat” yang sekarang, bukan karena “kebetulan”. Karena orang yang hebat tidak lahir dari rahim kemudahan, kesenangan
dan kenyamanan. Mereka terbentuk dari berbagai kesulitan, tantangan dan air mata. Ya Allah, kuatkan
kami yang lemah ini untuk Istiqomah di jalan-Mu hingga maut menjemput dan menjadi Husnul Khatimah. Amiiiin
YRA.

Leave a Reply